Jakarta – Gelombang demonstrasi mahasiswa dan masyarakat yang berujung ricuh di berbagai daerah Indonesia memakan korban jiwa. Aksi dipicu ketidakpuasan terhadap DPR dan pemerintah terkait kenaikan tunjangan DPR serta kondisi ekonomi yang dinilai semakin memberatkan rakyat. (03/00)
Kerusuhan diperparah oleh tindakan represif aparat kepolisian. Sejumlah kantor pemerintahan dan kepolisian dibakar massa. Peristiwa paling tragis terjadi di Makassar, ketika empat aparatur sipil negara (ASN) tewas dalam kebakaran kantor DPRD. Selain itu, sepuluh orang meninggal dunia, termasuk Affan Kurniawan, pengemudi ojek online yang tertabrak kendaraan taktis Brimob.
Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional (DPN) PETIR, Jackson Sihombing, menilai Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo bertanggung jawab atas kekisruhan tersebut.
“Banyak video menunjukkan tindakan represif polisi yang memicu kemarahan masyarakat. Mahasiswa dipukuli, massa ditembaki gas air mata, hingga menimbulkan korban jiwa,” kata Jackson, Rabu (3/9).
Jackson juga menyoroti lemahnya penegakan hukum. Ia menyebut praktik pungli, laporan masyarakat yang diabaikan, serta maraknya narkoba dan judi online yang tak kunjung diberantas.
“Fenomena No Viral No Justice membuat masyarakat muak. Kalau tidak viral, laporan tidak ditindaklanjuti,” ujarnya.
Atas kondisi ini, Jackson mendesak Presiden Prabowo Subianto segera melakukan reformasi di tubuh Polri.
“Saya berharap Presiden mengganti Kapolri. Undang-undang kepolisian juga perlu direvisi karena kewenangan mereka terlalu besar dan rawan disalahgunakan,” tegasnya.
Tidak ada komentar