
. 

DetikXPos- Duri, Bengkalis – Kota Duri, Kabupaten Bengkalis, dikenal sebagai salah satu daerah penghasil minyak bumi terbesar di Indonesia. Aktivitas industri migas dan logistik berskala besar membuat arus kendaraan berat di wilayah ini sangat padat. Karena itu, pembangunan Jalan Lingkar Duri sejak awal diproyeksikan sebagai solusi strategis untuk mengurai kemacetan dan menekan risiko kecelakaan lalu lintas di pusat kota.
Ruas jalan sepanjang kurang lebih 33 kilometer yang menghubungkan Balai Raja (KM 33) hingga Air Kulim (KM 11) ini dirancang untuk mengalihkan kendaraan bertonase besar agar tidak lagi melintasi jantung Kota Duri. Namun hingga kini, manfaat jalan tersebut belum dirasakan secara maksimal oleh masyarakat.
Meski dibangun dengan anggaran besar, Jalan Lingkar Duri belum difungsikan secara optimal. Truk-truk besar masih melintas di dalam kota, menyebabkan kemacetan, kerusakan jalan, kebisingan, hingga meningkatnya risiko kecelakaan.
Ironi pembangunan juga terlihat dari keberadaan terminal megah yang dibangun sejak 2005 menggunakan APBD Kabupaten Bengkalis. Bangunan tersebut hingga kini belum berfungsi sebagaimana mestinya. Fisiknya berdiri kokoh, namun aktivitas hampir tidak ada. Dua infrastruktur besar, namun sama-sama belum memberi manfaat nyata bagi publik.
Padahal, kondisi lalu lintas di ruas Pekanbaru–Duri–Dumai tergolong rawan. Kepadatan kendaraan dan keterbatasan kapasitas jalan selama bertahun-tahun telah menyebabkan banyak pengguna jalan kehilangan nyawa maupun mengalami luka serius. Fakta ini menunjukkan bahwa persoalan keselamatan lalu lintas di jalur tersebut merupakan masalah serius yang belum tertangani secara tuntas.
Atas kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Bengkalis pada tahun 2019 membangun Jalan Lingkar Duri Barat sebagai jalur alternatif. Proyek ini telah terealisasi di lapangan, namun hingga kini belum dimanfaatkan secara maksimal. Tujuan awal untuk menekan kemacetan dan mengurangi angka kecelakaan pun belum tercapai.
Akibatnya, infrastruktur yang menyerap anggaran besar tersebut terkesan terbengkalai, sementara masyarakat masih menanggung dampak langsungnya setiap hari.
Warga pun mulai bersuara.
“Setiap hari kami lihat truk besar masih lewat tengah kota. Jalan rusak, macet, dan sangat berbahaya, terutama untuk anak-anak sekolah,” ujar Rudi, warga Duri
Hal senada disampaikan Siti, pedagang di pinggir jalan utama Kota Duri. Menurutnya, kemacetan parah sering terjadi pada jam sibuk.
“Kalau sore sampai malam, macet tidak terhindarkan. Padahal katanya sudah ada jalan lingkar, tapi tidak dipakai,” keluhnya.
Masyarakat kini meminta perhatian pemerintah pusat, khususnya Kementerian PUPR, untuk melakukan evaluasi serius dan memastikan Jalan Lingkar Duri benar-benar difungsikan sesuai tujuan pembangunannya. Selain itu, publik juga mendesak BPKP melakukan audit menyeluruh terhadap proyek jalan lingkar maupun pembangunan terminal yang hingga kini belum dimanfaatkan.
Harapannya, audit dan evaluasi tersebut dapat membuka kejelasan kepada publik serta memastikan proyek strategis ini tidak berakhir sebagai simbol pemborosan anggaran, melainkan benar-benar menjadi solusi nyata bagi keselamatan masyarakat dan kelancaran logistik nasional.

Tidak ada komentar