x
.

Syeikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi: Layak Dikenang Sebagai Pahlawan Nasional

waktu baca 3 menit
Kamis, 14 Agu 2025 09:08       Redaksi

Jakarta – Dalam lintasan sejarah Islam di Nusantara, nama Syeikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi tercatat dengan tinta emas. Lahir di Koto Gadang, Agam, Sumatera Barat pada tahun 1860, ia menjadi satu-satunya putra Indonesia yang pernah menjabat sebagai Imam Besar dan Khatib di Masjidil Haram, Mekkah, sekaligus memegang amanah sebagai Mufti Mazhab Syafi’i. (14/08)

Prestasi ini menempatkannya bukan hanya sebagai figur terhormat di mata dunia Islam, tetapi juga sebagai simbol bahwa ulama dari Nusantara mampu mencapai puncak kehormatan di pusat peradaban Islam.

Sejak usia belia, Ahmad Khatib telah menempuh perjalanan intelektual ke Mekkah. Kepakarannya di bidang fikih Mazhab Syafi’i, ilmu falak, waris, dan bahasa asing menjadikannya sosok yang disegani.

Keilmuan yang mendalam, kecakapan berbahasa, serta wibawanya membuatnya dipercaya memimpin shalat di Masjidil Haram dan membimbing jamaah dari berbagai bangsa. Di tengah kesibukannya sebagai imam dan khatib, ia tetap konsisten mengajar.

Di antara murid-muridnya terdapat dua tokoh penting yang kelak menjadi pendiri organisasi Islam terbesar di Indonesia: KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, dan KH. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Hubungan guru-murid ini menciptakan rantai keilmuan yang menghubungkan pusat dunia Islam di Mekkah dengan gerakan kebangkitan Islam di tanah air.

Selain mengajar, Ahmad Khatib juga merupakan penulis produktif. Dia menulis setidaknya 24 karya, termasuk kitab seperti Al-Syumus al-Lami’ah fi Radd Bida’i Ahl al-Sab’ah, yang dibentuk dalam bentuk nazm (puisi) dan populer di kalangan akademisi .

Baca Juga:  Rahman SE Dibekuk, Publik Tantang Kejati Riau Usut Keterlibatan Afrizal Sintong

Pemikirannya tajam, sistematis, dan relevan dengan kebutuhan umat pada masanya, menunjukkan bahwa ulama tidak hanya berfungsi sebagai pemimpin spiritual, tetapi juga sebagai pembaharu pemikiran dan pengetahuan.

Melihat kiprah dan prestasinya, berbagai kalangan—mulai dari sejarawan, akademisi, hingga tokoh masyarakat—menyerukan agar pemerintah menetapkan Syeikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi sebagai Tokoh Nasional.

“Beliau adalah putra terbaik bangsa yang berhasil menempati posisi tertinggi di pusat peradaban Islam, sebuah prestasi yang belum terulang hingga hari ini. Sudah sepantasnya negara memberikan penghormatan resmi,” ujar Dr. Ahmad Fadli, sejarawan Universitas Indonesia.

Hal senada disampaikan tokoh masyarakat Minangkabau, Buya Irfan Ismail. “Jika kita bangga dengan tokoh-tokoh yang berjuang di medan politik, maka kita juga harus bangga pada tokoh yang berjihad di medan ilmu. Ahmad Khatib adalah ulama yang mengangkat nama Indonesia tanpa pernah mencari panggung politik,” ujarnya.

Baca Juga:  Sri Mulyani Alokasikan Rp757 Triliun untuk Pendidikan Tahun 2026, Terbesar dalam APBN

Seruan ini diharapkan mendapat perhatian serius dari DPR, DPD, dan Presiden, sehingga sejarah bangsa tidak melupakan putra terbaiknya. Penetapan gelar Tokoh Nasional bagi Ahmad Khatib diyakini akan menjadi pengakuan resmi atas kontribusinya yang mendunia dan menginspirasi.

Kisah Ahmad Khatib juga menjadi cermin dari tradisi intelektual panjang Minangkabau, daerah yang telah melahirkan sejumlah tokoh besar seperti Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, Tan Malaka, Muhammad Yamin, dan Buya Hamka. Dari era perjuangan kemerdekaan hingga pembangunan negara, peran tokoh-tokoh Minangkabau menegaskan kontribusi daerah ini bagi Indonesia.

Baca Juga:  100 Hari Gubernur Abdul Wahid: Misi Tiga Pilar Masih Sebatas Wacana, Publik Ragukan Keseriusan

Sejarawan mengingatkan bahwa sejarah nasional kerap terlalu terpusat pada wilayah tertentu, padahal prestasi besar juga lahir dari berbagai penjuru Nusantara. Figur seperti Ahmad Khatib adalah bukti nyata bahwa kontribusi itu bersifat menyeluruh dan setara.

Para pemerhati sejarah sekaligus mendorong agar perjalanan hidup dan pemikiran Syeikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan nasional.

“Generasi muda harus tahu bahwa Indonesia pernah memiliki Imam Besar Masjidil Haram. Ini akan menumbuhkan rasa percaya diri dan kebanggaan nasional yang sehat,” kata Prof. M. Yusuf Abdullah, pakar pendidikan Islam.

Di tengah arus globalisasi, mengingat dan menghargai figur-figur besar seperti Ahmad Khatib bukan hanya menjaga warisan sejarah, tetapi juga memupuk kepercayaan diri bangsa bahwa kejayaan itu pernah diraih dan dapat diraih kembali.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

    LAINNYA
    x
    x